Bupati Batu Bara Kembangkan Warisan Sejarah Perang Dunia Kedua Jadi Wisata Internasional

Senin, 09 Desember 2019 | 20.24 WIB

Bagikan:

BATU BARA, (MIMBAR) - Tidak semua kabupaten di Indonesia memiliki arti penting dan strategis pada perang dunia kedua seperti halnya Batu Bara. Pantai Perupuk Batu Bara pada bulan Maret 1942 menjadi tempat pendaratan pertama pasukan Jepang di Sumatera Utara. 

Hal itu dikatakan Bupati Batu Bara, Ir H Zahir, MAP, saat memberikan sambutannya pada peresmian Kampung Jepang di Pantai Sejarah Kerupuk Kecamatan Lima Puluh Pesisir Kabupaten Batu Bara, Senin (9/12/2019).

"Tempat pendaratan itu oleh masyarakat dinamakan sebagai Pantai Sejarah sampai saat ini dan di sini ditemukan 7 bunker pasukan Jepang, satu diantaranya masih dalam kondisi utuh. Kita akan kembangkan  situs warisan sejarah perang dunia kedua jadi wisat internasional" ujar Zahir.


Sementara menurut Dr Ichwan Azhari, Dosen Sejarawan Universitas Negeri Medan mengatakan ditetapkannya desa Perupuk sebagai lokasi pendaratan pasukan Jepang memperlihatkan strategisnya kawasan ini sebagai pusat ekspansi militer pada Perang Dunia kedua.

Menurut Ichwan, data intelejen Jepang memperlihatkan pantai Tanjung Tiram cukup dalam untuk bersandarnya kapal perang besar menurunkan pasukan ke pantai. Juga karena kawasan ini memiliki pantai pasir putih yang baik untuk pendaratan pasukan marinir Jepang.


"Bahkan kedalaman laut Tanjung Tiram ini kemudian digunakan Jepang untuk menyandarkan kapal besar hasil rampasan perang milik Belanda yakni kapal Van Waewirjk buatan tahun 1910 berbobot 3.000 ton. Kapal berbendera Belanda itu diganti dengan bendera Jepang dan nama kapal diberi nama Jepang Harukiku Maru" terang Ichwan.

Dikatakan Ichwan, kapal Harikuku Maru ini membawa karet dan hasil bumi Batu Bara untuk diekspor bagi dana Jepang dalam perang dunia kedua di Sumatera. "Kapal malang ini diterpedo sekutu Belanda, yakni kapal selam Inggris bernama HMS Truculent pada 22 Juni 1944. Bangkai kapal ini masih ada di perairan Tanjung Tiram sampai sekarang dan pernah diteliti oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara" sebut Ichwan yang juga salah satu anggota TBUPP Kabupaten Batu Bara Bidang sejarah dan budaya.


Plt Kadisdik Kabupaten Batu Bara Ilyas Sitorus mengatakan bahwa Bupati Batu Bara, Ir H Zahir, MAP, ingin mencari inspirasi dari warisan sejarah perang dunia kedua ini bagi pembangunan Batu Bara dalam arti luas. 

"Maka diinstruksikan Bupati lah pembuatan replika kapal ini untuk dipamerkan di museum Batu Bara melalui Dinas Pendidikan karena Dinas Pendidikan selain mengurusin terkait pendidikan juga mengurusi kebudayaan" jelas Ilyas.

Dikatakan Ilyas, tujuan pembuatan replika ini adalah sebagai ingatan atau memori sejarah adanya situs perang dunia di  daerah ini dan sebagai bahan pembelajaran sejarah nantinya. 

"Replika kapal ini juga sebagai bukti bahwa Batu Bara pernah menjadi basis ekonomi perang dunia kedua yang memperlihatkan bahwa Batu Bara merupakan daerah yang memiliki hasil bumi yang kaya" tambah ncekli safaan akrab Ilyas.


Selanjutnya Bupati Batu Bara juga ingin mengaitkan masa lalu dengan kebutuhan masa kini khususnya dalam bidang pariwisata. Melihat adanya trend pendirian kampung Jepang sebagai daerah kunjungan wisata di Pulau Jawa, maka Bupati Batu Bara berinisiatif mengaitkan situs Jepang dengan pendirian kampung Jepang di Pantai Sejarah. Maka ide brillian ini telah menjadikan situs sejarah tidak sebagai benda mati tapi menjadi objek kekinian berpotensi wisata yang memberikan dampak pada perekonomian masyarakat.

"Maka pada tanggal 9 Desember 2019 diresmikan lah embrio Kampung Jepang di situs Sejarah Jepang pantai sejarah Perupuk.  Ini merupakan ide cerdas menghubungkan wisata milineal dengan warisan sejarah Batu Bara" jelas Iilyas.

Hadir pada kesempatan tersebut selain Bupati Batu Bara, Zahir, hadir juga Ketua TP PKK Ny Maya Zahir, Ketua TBUPP Syaiful Syafri, anggota DPRD, Andi Lestari, Sejarawan Sumatera Utara, Ichwan Ashari, Plt Kadisdik, Ilyas Sitorus, Camat Limapuluh Pesisir, Lukman dan OPD lainnya serta perwakilan Kepala Sekolah dan tokoh masyarakat Batu Batu. (01)

KOMENTAR