Kades Celawan Sergai, Tuhadi Diduga Manfaatkan Dana Desa Buat Kepentingan Pribadi

Jumat, 03 Oktober 2025 | 18.46 WIB

Bagikan:
Kolase foto Kepala Desa Celawan, Pantai Cermin, Serdang Bedagai, Tuhadi berlatarbelakang kantor Desa Celawan. (foto : mimbar/ran)

MEDAN, (MIMBAR) - Polemik dugaan wanprestasi menyeret nama Kepala Desa Celawan, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Tuhadi. Kades dituding tidak menepati janji pengembalian dana sebesar Rp100 juta yang sebelumnya ia terima dari pihak mitra kerja sama penggarapan sawah pribadinya.


Berdasarkan rekaman percakapan antara Rinaldi dengan Kades Tuhadi, selain membicarakan soal pelunasan utang, juga disinggung persoalan dana desa yang menimbulkan spekulasi adanya kaitan dengan keuangan desa.


Tuhadi mengakui telah memerintahkan Bendahara Desa Celawan, Dara, untuk melunasi sisa utangnya. Ia berdalih, pembayaran tersebut nantinya akan diganti dari dana desa setelah pencairan. Namun, dalam rekaman itu pula, Tuhadi melontarkan kekecewaan terhadap Dara yang tak kunjung menyalurkan uang sebagaimana diperintahkan.


Rinaldi yang memberikan dana menilai sikap Kades tidak konsisten. “Awalnya beliau janji sebulan, lalu minta tempo lagi. Setelah itu hanya dibayar Rp.50 juta. Sisanya dicicil lama, sering mengulur waktu. Terakhir tinggal Rp.4 juta lagi,” ujarnya kepada wartawan di Medan, Jumat malam (3/10/2025). 


Menurut Rinaldi selaku pemberi pinjaman, Tuhadi menawarkan penggarapan sawah seluas 15 rantai kepada pihak tertentu dengan perjanjian dana sebesar Rp100 juta. Dana itu, berdasarkan keterangan Tuhadi, akan digunakan Kades untuk membeli bibit ikan. Kesepakatannya, setelah sawah digarap selama satu tahun, uang tersebut akan dikembalikan kepada pemberi dana.


Akan tetapi setelah satu tahun berjalan, penggarapan sawah dihentikan karena hasilnya dinilai tidak memuaskan. Tuhadi kemudian berjanji mengembalikan uang dalam waktu satu bulan, namun janjinya tak kunjung ditepati. Setelah beberapa kali meminta tempo, Kades hanya mengembalikan Rp.50 juta. Sisanya dicicil berangsur, hingga kini masih tersisa Rp4 juta yang belum dilunasi.


Lebih lanjut, dia menyebut, sisa uang sempat diserahkan Tuhadi kepada sekretaris desa untuk dibayarkan, namun hingga kini tak kunjung diterima. 


“Sekretarisnya terkesan menutupi dan selalu beralasan. Seminggu kemudian hanya diberikan Rp.1 juta. Masih tersisa Rp.4 juta lagi yang belum dibayarkan,” ungkapnya.


“Kepercayaan saya ke dia sudah mulai habis. Borok dia semua saya sudah tahu. Pernah saya tes untuk antarkan uang, tidak juga dilakukan. Kan kurang ajar,” dalih Tuhadi dalam rekaman percakapan dengan orang yang memberi pinjaman lewat seluler, belum lama ini. 


Tuhadi juga mengaku siap menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Ia bahkan menyarankan agar pihak pemberi pinjaman menemui keluarganya untuk membicarakan penyelesaian.


“Soal laporan ke polisi, itu hak bapak. Kalau saya, tidak ada perkara yang tidak selesai. Kita selesaikan saja secara kekeluargaan,” ujarnya.


Rinaldi mengaku kecewa karena persoalan ini tak hanya menimbulkan kerugian finansial, tapi juga merugikan keluarganya. 


“Kami dibuat malu. Orang tua kami batal berangkat umrah karena uang tak kunjung kembali. Kami sudah banyak kehilangan waktu dan biaya,” pungkasnya.


Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Bendahara Desa Celawan, Dara, yang disebut-sebut mengetahui aliran dana tersebut, belum memberikan tanggapan meski sudah coba dikonfirmasi wartawan.


Kasus ini menambah panjang sorotan publik terhadap tata kelola dana desa, yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi. (01)


KOMENTAR