Perselisihan Pastor dan Waka Polres Samosir Berakhir Damai

Selasa, 21 Juni 2022 | 22.33 WIB

Bagikan:
Pastor Sabat Nababan salam kompak dengan Waka Polres Samosir, Kompol Togap M Lumbantobing dan Kapolda Sumut, Irjen Pol RZ Panca Putra. (foto : mimbar)

MEDAN, (MIMBAR) - Perselisihan antara Pastor Sabat Nababan yang merupakan Pastor Paroki Gereja Katolik St Antonio Claret Tomok, Desa Tomok Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir dengan Waka Polres Samosir, Kompol Togap M Lumbantobing, berujung damai. Imam Katolik sudah memaafkan orang nomor dua di Polres Samosir tersebut. 

"Masalahnya sudah kami selesaikan dengan baik-baik bersama dengan Pak Tobing. Tidak ada perselisihan lagi. Saya tegaskan jangan dibawa ini jadi persoalan. Kami sudah membalut luka kami masing-masing. Jangan ada orang lain yang merasa terluka, kami berdua sudah saling bermaafan," ujar Sabat Nababan usai bertemu dengan Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan Waka Polda Sumut Brigjen Pol Dadang Hartanto di Mapolda Sumut, Selasa (21/6/2022). 

Dia mengaku sudah melaporkan perdamaian ini secara langsung kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak. 

"Saya sudah melaporkan kepada Kapolda, supaya Bapak Kapolda bukan hanya mendengar tapi juga menerima pertemuan ini," katanya. 

Dia mengungkapkan, Wakapolres Samosir, Kompol Togap M Lumbantobing telah mengakui kesalahan dalam persoalan ini.

"Ini harus diapresiasi sebagai prestasi mengaku salah. Saya selaku pastor membuka pintu maaf itu dan kami sudah berangkulan, tidak ada yang indah selain damai dan bersaudara," ujarnya. 

Pastor M Manurung menambahkan pihak gereja sudah menilai perselisihan ini selesai. Karena, kedua belah pihak sudah saling memaafkan. 

"Tapi ketika Pastor Sabat dan Waka Polres Samosir sudah melakukan rekonsiliasi saling mengampuni, maka kami pihak gereja, pun menilai kasus itu sudah selesai," ucapnya. 

Dia mengimbau kepada seluruh umat Katolik untuk saling mendamaikan hati agar tidak terjadi lagi persoalan yang baru.

"Kami juga mengimbau umat khususnya umat Katolik mengikuti teladan dari Pastor Sabat dan mari kita ciptakan lagi persaudaraan," katanya. 
 
M Manurung juga berterimakasih kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan jajarannya yang telah menerima kedatangannya bersama Pastor Sabat. 

"Terimakasih kepada Kapolda yang mengundang kami dari Keuskupan untuk menceritakan hal ini secara langsung, ini sesuatu yang baik bagi kami sehingga persoalan ini sudah kami nilai selesai," sebutnya. 

Sementara, Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak tidak semua persoalan berujung dengan pengadilan.

"Melakukan dan penanganan penegakan hukum tidak semuanya berujung pada pasal penegakan hukum. Restorative justice itu menjadi pedoman kita untuk menyelesaikan semua persoalan yang terjadi," katanya. 

Perdamaian ini, sambung dia, bisa menjadi contoh bagi semua masyarakat untuk menyelesaikan masalah. 

"Terimakasih kepada Pastor yang sudah menyelesaikan persoalan ini dari awal. Ini jadi contoh bagi kita seluruh masyarakat bagaimana menyelesaikan masalah dengan sebaik-baiknya. Kedua belah pihak sudah berdamai dan menyelesaikan masalahnya dengan baik-baik," sebut dia. 

Diketahui, insiden Imam Katolik dimaki-maki Wakapolres Samosir, Kompol Togap M Lumbantobing ini saat keduanya sama-sama bertugas. Pastor Sabat Nababan kala itu hendak menuju ke rumah jemaatnya, guna melaksanakan ritual perminyakan suci. 

Di sisi lain, Wakapolres Samosir, Kompol Togap M Lumbantobing bertugas mengatur arus lalu lintas. Lantaran Imam Katolik itu hendak memburu waktu, dia memohon izin untuk melintas. 

Namun Wakapolres Samosir bertindak arogan, dan memaki Imam Katolik tersebut. Warga yang menyaksikan itu juga sempat merasa heran dengan sikap Wakapolres Samosir, Kompol Togap Lumbantobing. (04)

KOMENTAR